Di negeri ini sebagian besar musisi yang sukses dalam industri musik adalah seorang otodidak. Sementara musisi akademis sangat jarang terlihat. Betulkah persoalan otodidak vs akademis adalah persoalan hitam vs putih? Tentu tidak sesederhana itu. Tetapi persoalan itu akan dibahas lain kali. Tetapi kenyataannya adalah bahwa mereka yang mengaku otodidak sebenarnya juga menggunakan ilmu-ilmu akademis meskipun tanpa disadarinya.

Persoalan otodidak-akademis adalah persoalan duluan mana antara ayam-telur. Maka mari singkirkan dahulu perdebatan tentang “ayam-telur” tersebut. Yang lebih penting kali ini adalah bagaimana menjadi seorang otodidak yang sukses? (tentu saja kata sukses disini bukan berarti sukses secara materi tetapi sukses mendapat ilmu tarian jawa).

Syarat utama untuk seorang otodidak adalah kemauan keras. Karena untuk mendapatkan sebuah ilmu seseorang otodidak harus “mencari sendiri”. Berbeda dengan kondisi dalam sebuah lembaga pendidikan. Apa saja yang harus dipelajari hingga tahapan materi yang mesti dipelajari telah disusun secara sistematis (meskipun banyak juga lembaga pendidikan musik yang sama sekali tidak memiliki sistem pengajaran. Ini parah sekali, lihat disini juga jual sprei ). Tetapi sesungguhnya materi yang akan dipelajari oleh otodidak maupun akademis adalah sama. Maka kuncinya adalah pahami dahulu “petanya” agar tidak tersesat. Jika belajar dengan buku, bedakanlah antara buku yang memberi ilmu secara “instan” dengan buku yang membahas suatu masalah dari pokok persoalannya. Hal ini hampir sama dengan ungkapan: berilah kail jangan cuma ikan. Dengan pengetahuan yang mengakar membuat banyak persoalan menjadi jauh lebih mudah dipecahkan. Berbeda dengan pengetahuan yang bersifat instan yang hanya memberi satu jawaban untuk satu persoalan.

Lembaga pendidikan seperti dj school bagi yang belajar musik di lembaga pendidikan, tempat kursus, ataupun private di rumah, tentu bebannya jauh lebih sedikit. Karena materi telah dipersiapkan. Sehingga siswa tinggal berkonsentrasi menerima pelajaran yang diberikan. Tetapi perlu diwaspadai, karena tidak semua lembaga pendidikan musik memiliki sdm dan sistem yang kredibel. Kesuksesan sebuah proses belajar mengajar tergantung dari tiga faktor: pendidik, anak didik, dan sistem pengajarannya.
Jadi belajar di manapun, asalkan ketiga faktornya mendukung, tentu hasilnya akan memuaskan. Persoalannya kemudian adalah, bagai mana cara mengetahui (terutama) seorang pendidik musik dan sistem pengajarannya cukup bagus? Seorang pemain yang bagus belum tentu dapat menjadi pendidik yang bagus. Sebelum memutuskan untuk belajar pada lembaga pendidikan tertentu atau seseorang yang dapat mengajar musik, lebih baik tanyakan dahulu tentang silabus pengajarannya.

Seringkali, seorang musisi bermimpi menjadi sebesar Rolling Stones. Padahal, lebih kecil dari Rolling Stones selama masih bisa hidup makmur kenapa tidak? Sehubungan dengan itu, musisi seringkali merasa gagal jika tidak menjadi band terbesar di dunia. Padahal, ada banyak parameter yang menandakan seorang musisi atau sebuah band itu masuk kategori sukses atau tidak. Maka dari itu, menurut logika bisnis modern, musisi hanya perlu 1.000 fans setia untuk melanjutkan hidup, tidak selalu perlu 1 juta.
Logika nya begini, jika saja 1.000 fans setia itu membeli semua rilisan band kamu, semua merchandise kamu dan datang dan membayar semua konser kamu. Kamu mengeluarkan album 1 kali 1 tahun, mengeluarkan merchandise baru 3 bulan sekali dan konser seminggu sekali. Jika tidak salah, penghasilan dari kaset 1.000 x 15.000,- = 15.000.000,-, penjualan merchandise Rp 60.000,- x 1000 x 4 (3 bulan sekali) = Rp 240.000.000,- dan pendapatan manggung 2.000.000 x 4 x 12 bulan = Rp 96.000.000,-. Dengan demikian total pendapatan kotor band kamu setahun adalah Rp 351.000.000,- setahun, jadi rata-rata penghasilan sehari adalah Rp 961.643,83,-.
Mencapai penggemar 1.000 orang adalah tujuan yang ‘feasible’ atau masuk akal untuk dikejar. Jika kamu menambah 1 fans 1 hari, berarti anda hanya butuh 3 tahun untuk mencapainya. Bayangkan pula bahwa 1.000 orang itu adalah ‘True Fans’, yang sangat apresiatif akan karya musik kamu dan di lain pihak menyenangkan hati mereka adalah sesuatu yang akan kamu lakukan dengan sepenuh hati.
Kuncinya adalah memelihara kontak langsung dengan fans kamu. Mungkin mereka akan masuk ke backstage tempat kamu manggung, membeli langsung kaset dan merchandise dari website kamu, dan stay in touch lewat email setiap hari. Kamu juga akan mendapat keuntungan dari feedback mereka akan hasil karya dan produk kamu secara direct!
Perkembangan teknologi komunikasi akhir-akhir ini terutama Blog dan RSS Feed memungkinkan siklus penciptaan fans setia. Bahkan, jika kamu terus menerus melakukannya bukan tidak mungkin band kamu mencapai 1 juta fans, sebagai bonus.
Semua ini dapat kamu capai dengan one step at a time.
Sadari potensi musikal anda.
Tentukan tujuan-tujuan kecil yang tidak muluk.
Fokus pada apa yang anda miliki.
Rayakan keberhasilan-keberhasilan kecil.
Maintain basis penggemar sedikit demi sedikit.
Sudah terlihatkah masa depan kamu yang cerah? Mudah-mudahan artikel ini berguna.

Kita tentu sering mendengar berita tentang seorang musisi yang berhasil meraih penghargaan Gold atau Platinum atas penjualan album dia dari perusahaan recording. Tapi tahukah kalian berapa jumlah album yang berhasil terjual sehingga musisi tersebut berhak menerima penghargaan Gold atau Platinum ??
ternyata setiap negara itu memiliki jumlah minimum penjualan album yang berbeda-beda agar seorang musisi berhak mendapatkan penghargaan Silver, Gold, Platinum atau Diamond. Dari tabel yang dimuat di artikel tersebut, untuk Indonesia jumlah minimum penjualan album agar seorang musisi berhak mendapatkan penghargaan Gold adalah sebanyak 75,000 buah, untuk Platinum sebanyak 150,000 buah, dan untuk Diamond sebanayak 1,500,000 buah.
Sedangkan menurut saya, karena tingkat pembajakan di Indonesia sangat tinggi maka angka penjualan minimum tersebut diturunkan, untuk album impor angka penjualan minimum agar seorang musisi berhak mendapatkan penghargaan Platinum adalah sebanyak 50,000 buah, sementara untuk album lokal angka penjualan minimumnya adalah sebanyak 75,000 buah.

Sejarah Gitar Ibanez

Posted: Agustus 10, 2010 in Uncategorized

Ibanez mungkin merupakan salah satu pembuat gitar dari jepang yang paling terkenal. Perusahaan gitar Ibanez di dirikan di Nagoya, Jepang pada tahun 1957 sebagai anak perusahaan Hoshino Gakki, importir alat musik jepang yang memulai gitar ibanez untuk membuat model dan variannya tersendiri.

Pada awalnya gitar Ibanez membuat duplikat dari desain milik Amerika. Pada model model awalnya termasuk juga 2364, merupakan duplikasi dari model gitar terkenal Ampeg Dan Armstrong yang terbuat dari plastik jernih. Gitar ibanez model 2347 merupakan duplikat dari model 2351 yang sangat mirip dengan model Gibson Les Paul, dan model 2348 merupakan duplikat yang hampir sempurna dari model non-reverse Gibson Firebird. Varian model kopian yang berhasil di ciptakan oleh gitar Ibanez dengan sangat baik ini hampir dapat disamakan dengan model yang asli, dan ini membuat perusahaan gitar gibson untuk menuntut perusahaan gitar ibanez akan pelanggaran hak cipta di tahun 1977. Namun anehnya, gugatan tersebut tidak ditujukan kepada desain badan dari gitar ibanez yang mirip dengan desain gitar gibson, tetapi ditujukan untuk desain headstock dari gitar ibanez dan kemudian di selesaikan di pengadilan pada tahun 1978. Ini memacu perusahaan gitar ibanes untuk memperkenalkan desain milik gitar ibanez sendiri.

Beberapa dari desain tersebut adalah “the destroyer”, desain model ini mirip dengan desain gitar gibson exlporer dengan tambahan pada bentuk dan Ibanez’s classic pointed headstock. Model “the artist” menggunakan bentuk yang lebih tradisional dengan dua short cutaways dengan besar yang sama dan perubahan pada headstock untuk menghindari permasalahan hak cipta. Model “the rocket roll” merupakan duplikasi dari model gitar Gibson Flying V, tetapi Ibanez menggunakan “pointed headstock” dan tanpa “scratchplate”. Sedangkan model “the Iceman” memiliki desain model yang unik dan tidak biasa. Dengan menggunakan model Gibson Explorer dengan “cut-down-left-hand side, notch unik di dasar dan cutaway yang besar di right hand horn yang memperbolehkan akses ke fret yang lebih tinggi. Pada awalnya model “the destroyer” tersedia dengan dua atau tiga humbucking pickups, model “the artist” hanya dengan dua humbucking pickups, dan “the Iceman” dengan dua humbuckers atau desain pickup Ibanez dengan 3 coils. Model “the Iceman” dan model “the artist” masih dalam jajaran gitar ibanez bahkan sampai tahun 2008.

Golongan tahun 80an melihat banyak perbaikan pada jajaran gitar ibanez yang kemudian menambah “status” pada gitar ibanez. Perusahaan ini menjadi pionir dan ketua exponent dari “the superstart”, model yang masih populer sampai dengan saat ini. model “superstart” merupakan model Fender Stratocasater tetapi di desain khusus bagi gitaris heavy metal. Pada saat itu, tidah hanya gitar Ibanez saja yang mengembangkan model ini. Beberapa perusahaan lain seperti Jackson and Chavel juga turut berkontribusi. Dari segi visual, “superstrat” merupakan stratocaster yang normalnya tanpa scratchplate, longer, pointed horns, and deeper cutaways. Model ini juga memiliki 24-fret, sistem Floyd Rose tremolo dan tiga pickups.

Jajaran utama “superstrat” pada gitar ibanez adalah model “RG”. Gitar ini pertama kali diperkenalkan pada tahun 1985 dan kemudian disatukan oleh “the saber” dengan bentuk yang relatif sama tetapi dengan less pointed horns, dan desain badan yang tipis yang mungkin bahkan merupakan gitar tertipis yang pernah diproduksi. Pada akhir 1980an, gitar Ibanez berkolaborasi dengan gitaris berbakat Steve Vai yang sebelumnya pernah bergabung dengan Whitesnake, David Lee Roth’s solo band, dan Solo-nya sendiri. Steve Vai telah kehilangan gitar kustom favoritnya “Chavel Guitar” yang dicuri. Sehingga ia membutuhkan gitar baru. Steve Vai dan Ibanez berhasil mendesain superstrat dengan 24 fret, konfigurasi pickup aforementioned dan grab handle pada badan yang di kenal oleh Vai sebagai mongkey grip. ia dan ibanez juga mendesain gitar dengan 7 senar bernama “the Universe”.

Artis lain yang pernah bekerja sama dengan Ibanez dan merilis model bersejarah termasuk Paul Gilbert dengan model PGM signature, Joe Satriani dengan model JS Signature, Herman Li dan Sam Totman dengan E-Gen dan STM model, juga Munky dengan model Apex signature.

Music Produser

Posted: Agustus 10, 2010 in Uncategorized

apa yang ada di pikiran kita ketika mendengar kata “Music Producer?”

Bukan, bukan semacam Log Zhelebour dan Ahmad Dhani, meskipun mereka juga bisa dikategorikan produser, tetapi lebih kepada bentuk pekerjaan atau profesi di bidang musik yang banyak disalah-artikan oleh orang disini.

Produser belum tentu musisinya, memang ada beberapa contoh yang merangkap kerja tetapi produser sebetulnya adalah orang diluar musisi yang bisa melihat secara objektif dari luar. Produser adalah orang yang tugasnya mengerjakan proses rekaman dari mulai pre-production, production sampai post-production. Kalau kita mendengar nama seperti Timbaland, Nigel Godrich, George Martin, Phil Spector, Brian Eno, David Foster, etc, mereka adalah para produser yang sudah ternama di dunia musik berkat hasil karyanya.

Di Indonesia, istilah produser sering di salah-artikan sebagai pemodal atau penyandang dana. Bahkan sering juga suatu label memegang peran sebagai produser, hal ini sering kita lihat di major label.

Mengenai Job desc produser itu sendiri, seperti yang sudah saya tulis diatas mencakup keseluruhan rekaman sampai juga membuat image si artis dan menjualnya ke pasar bekerjasama dengan manager dan label. Disini, produser dan artis harus membuat batasan mengenai sejauh mana tugas produser, ini kembali kepada artisnya sendiri mereka ingin si produser mencakup tugasnya sampai mana.

Hal yang perlu diperhatikan oleh seorang produser adalah management skill, communication skill and most important of all…musical skill. Sering sekali kita mendapati engineer di studio rekaman yang menjadi penentu kebijakan di band dan ini adalah sesuatu yang kurang baik karena ini adalah tugas produser. Ya, produser adalah “decision maker” akhir ketika terjadi “deadlock” diantara personil band atau ketika solo artis ragu-ragu akan bagaimana musiknya nanti. Produser berhak menentukan hasil akhir dengan keputusan yang harus disetujui bersama.

Sepertinya hal ini terkesan otoriter? coba kita ambil contoh ini,

Kita tergabung di suatu band yang sedang rekaman, dalam band kita ada vokalis, bassist, gitaris, keyboardist & drummer (berhubung saya narsis, mari kita kondisikan kita semua adalah gitaris…heuehhue). si vokalis puas atas hasil akhirnya, tapi si keyboardist merasa bahwa vokalnya sedikit fals, bassist bersikeras bahwa itu sudah bagus, drummer merasa perlu sedikit power dibagian yang sama dan kita sebagai gitaris merasa vokal perlu diturunkan sedikit karena kita mengisi gitar dibagian itu dengan sangat bagus (menurut kita), ditambah lagi apabila sound engineer ikut-ikut membuat pusing dengan memaksakan kemauannya tanpa diminta (in some cases, this happens). Disini terjadi deadlock dan tidak ada yang mengalah atau terpaksa mengalah dan mengikuti kemauan personil yang paling keras kepala dengan mangkel. Disinilah si produser harus bisa mengambil keputusan dengan bijak, bersikap kritis tetapi tetap memotivasi personil agar mereka tetap merasa nyaman bekerja dengan si produser.

Kalimat seperti “gue gak setuju sama drummer, gue sih setuju sama bassist” atau “gue bilang juga apa, si gitaris bener kan, lo fals tuh disitu” ini sangat tidak dibenarkan karena selain kita berpihak, kita juga akan membuat mood dan motivasi mereka drop dan membuat mereka tidak nyaman dengan kita. Akan lebih baik apabila kita menggunakan kata-kata seperti ini : “gue suka nih vokalnya bagian itu, menurut gue itu kuat dan catchy. sekarang kalo kita coba cari nada yang sedikit lebih tinggi gimana? yang pertama kita simpen and kita bandingin aja mana yang lebih pas ya.” Dengan begini, kita menunjuk bagian tertentu dari musik sebagai objek dan si musisi tidak merasa tertekan karena kita tidak menunjuk ke diri si musisi. Orang cenderung menutup diri dan membela diri apabila merasa tertekan dan ditunjuk. We don’t want that, kita ingin agar si musisi mengeluarkan semua skill dan emosi yang ada saat itu ke lagu dengan membuat mereka merasa nyaman.

Tugas produser bukan merubah image dan karakter si musisi tersebut tetapi membuat si musisi mengeluarkan semua yang dimilikinya dan menguatkan karakter tersebut. menurut saya pribadi.

Ok, setelah kita mengetahui general job desc mengenai produser, ini ada 10 elemen penting yang harus dilakukan oleh seorang produser sebelum memulai rekaman (pre-production) :

1. meeting the artist
2. listening to the artist’s material
3. Considering the artist’s identity
4. Choosing the best material to record
5. Planning the project : Time and Money
6. Writing, re-writing and arranging
7. Hiring help
8. Scheduling rehearsals, recording and mixing sessions
9. Rehearsing
10. Getting ready for the recording sessions

1. Meeting the artist
Kecuali kita memproduksi musik kita sendiri, tentunya kita perlu bertemu dan mengenal si artist lebih dekat, bagaimana karakter mereka, seperti apa musik mereka, apa referensi mereka, apa yang mereka inginkan dari kita, etc. Disini juga kita harus menentukan sejauh mana keterlibatan kita ke musik mereka, apakah hanya untuk rekaman, manggung, sampai promosi dan label, disini kita harus tarik garis dan job desc yang jelas.

2. Listening to the artist’s material
Tentu saja, tidak ada yang lebih penting dari pada mendengar materi mereka so kita ada gambaran mengenai karakter musik mereka.

3. Considering the artist’s identity
Apabila kita bekerja dengan artist yang sudah punya nama dan dikenal, tidak begitu sulit menentukan karakter mereka karena mereka sudah memiliki karakter sendiri, tetapi kalau kita bertemu band baru yang bisa dibilang sedang mencari identitasnya, disini kita harus jeli melihat dimana posisi mereka dan sebaiknya dimana mereka mem-posisikan diri. Seperti pada ilmu komunikasi, define your brand and position your product in the market. hal dibawah ini perlu diperhatikan : What’s the purpose of the recording? for fun, demo to get gigs, demo to major labels, a full length album, etc? What do you want this recording to sound like? Similar to a known artist, a blend of many musical styles or something completely new? Who will listen to it? a mass market, family, friends, etc? this is imprtant. we don’t sell an avant-garde jazz experimental music to dang dut crowd and vice versa.

4. Choosing the best material to record
Pilihan lagu bisa jadi adalah lagu yang sangat baru yang tercipta 2 menit yang lalu atau bahkan lagu 10 tahun lalu yang kita simpan di kaset usang? listen to all of it and choose the best material along with the artist. Disini, soal teknnis juga harus kita pikirkan, apakah kita mau memakai studio full analog dengan pita atau digital? apakah studio rekomendasi kita sesuai dengan kondisi musisi tersebut? siapa engineer yang kita rekomen untuk merekam? these things are important.

5. Planning the project : time and money
Kedua hal ini sangat erat kaitannya. With more studio shift that means more money involved. Diperlukan management skill disini agar semua bisa berjalan secara maksimal.

6. Writing, re-writing and arranging
Disini, musical skill diperlukan. Musisi mempercayakan ke kita untuk mengemas musik mereka dan membutuhkan opini kita, kadang sebagai bahan acuan dan kadang hanya untuk pertimbangan.

7. Hiring help
Terkadang, produser juga merangkap sebagai project manager. Produser juga yang bertanggung jawab akan timeplan dan schedule berjalan secara baik. Begitu juga dengan bantuan atau additional player. Di lagu mana harus menggunakan string section, brass section, choir vocal, apakah perlu memakai yang asli atau cukup hanya sample digital, distudio mana akustik ruangan yang bagus untuk merekam hal-hal itu, etc. Tugas produser is to make that happen as effective as possible…And don’t forget budget wise..

8. Scheduling rehearsals, recording and mixing sessions
Ya, tugas paling berat…apalagi kalau anak bandnya kerja kantoran semua…heuhueuhe.

9. Rehearsing
Make sure musisi berlatih dahulu sebelum rekaman, minimal 1 hari sebelumnya agar musisi tersebut masih fresh dengan musiknya dan mood serta energy juga masih terjaga. Lebih baik lagi apabila direkam pada saat ini karena disini kita bisa menentukan mana yang perlu dan kurang perlu sebelum masuk studio.

10. getting ready for the recording sessions
Persiapan. Make sure semua berjalan sesuai rencana. Kalau perlu, datanglah ke studio rekaman sehari sebelumnya dan amati suasana sekitar. Hal-hal berikut bisa dijadikan bahan pemikiran : apakah studio sudah dibersihkan? is the engineer ready? siapa yang mengisi shift sebelum atau sesudah kita? apakah disitu ramai orang lalu lalang? apakah banyak makanan di sekitar situ? set your energy and motivate your musicians to do the same.

Di kutip dr catatan kakakku (Dedi key_b)

Musisi-musisi pemberontak

Posted: Agustus 10, 2010 in Uncategorized

Kehadiran musik dalam guratan sejarah telah berhasil menancapkan fakta tersendiri. Jagad musik dalam beberapa dekade terakhir telah memunculkan barisan musisi yang tidak hanya sekedar lihai meramu instrumen, namun lebih dari itu, musik sebagai bahasa universal mampu beroperasi dalam dialektika sosial masyarakat.

Pergeseran naluri musik tidak lagi sebatas pengalaman estetis-auditif ataupun hiburan semata. Musik ditangan beberapa musisi progresif semakin menghentakkan iramanya ke jantung realitas. Mendentingkan kesadaran di tengah ketimpangan sosial, atau bahkan tidak jarang pula memacu kekuatan radikal menuju perubahan sosial.

Dalam segmentasi berbagai genre musik, para musisi telah semakin berani mengusung komposisi nada perlawanan atau pemberontakan. Intonasi kritik dan protes pun akhirnya lekat dengan musik, jumlahnya sebanyak para musisi yang meyakini bahwa pembaharuan sosial bisa disuarakan melalui musik.

Gerakan punk, misalnya, lahir dalam notasi kegalauan sosial, di mana anak-anak muda meluapkan kebosanan terhadap represi politik yang dilakukan oleh para penguasa. Hal semacam itulah yang memicu beragam gerakan perlawanan dalam sendi perkembangan musik di belahan dunia.

Pelaku resistensi dan pemberontak dapat diamati secara lintas-genre. Dalam ranah rock, band rap-rock Rage Against The Machine (RATM) adalah contoh yang cukup representatif. Bukan hanya karena musik dan liriknya yang mengedepankan kritik politik, namun juga karena para personel band ini sangat aktif dalam gerakan-gerakan politik perlawanan sayap kiri.

Jauh sebelumnya, pada dekade 1960-an, Bob Daylan menjadi sosok penting dalam gerakan perlawanan kaum muda terhadap kebijakan pemerintah Amerika Serikat yang melanjutkan perang di Vietnam. Perjuangan dan dedikasi Bob Dylan di dunia musik demikian mengagumkan. Dia merupakan musisi multidimensional, penyanyi, pencipta lagu, penulis, sastrawan, dan disc jockey. Dylan bahkan berhasil memprovokasi lahirnya sejumlah genre dalam musik pop, termasuk folk-rock dan country-rock.

Sejumlah karya terbaik Dylan begitu populer ketika dirinya menjadi dokumentarian dan tokoh pergolakan di Amerika Serikat. Karya-karya Dylan dianggap mampu menjadi kontrol sosial bagi perilaku pemerintah serta masyarakat yang bertindak berlebihan. Tak heran jika pengaruhnya terus bergema hingga beberapa generasi. Nama Bob Dylan tak lekang dari ingatan. Belakangan warga dunia masih menyanyikan lagu-lagunya dalam berbagai demonstrasi dan aksi protes terhadap aksi Amerika menginvasi Irak beberapa tahun silam.

Blantika musik dunia pun menorehkan sejumlah musisi yang bisa dikatakan sebagai inspirator sekaligus “provokator”. Bob Marley sang punggawa musik Reage mampu menghadirkan kepercayaan diri, pemberontakan dan keadilan. Jim Morrison (vokalis band The Doors) mengusung latar musik rock baru dengan suasana yang kompleks, surealis, dan sugestif yang mengeksplorasi seks, mistisisme, obat-obatan, pembunuhan, kegilaan hingga kematian. Marilyn Manson, rockstar yang berhasil mencitrakan dirinya dengan sosok yang lekat dengan kegelapan dan satanik.

Musisi Lokal
Pada jalur musik pemberontak, masyarakat Indonesia tentu tidak asing dengan nama Iwan Fals. Konsistensinya terhadap lagu-lagu dengan lirik perlawanan terhadap ketidakadilan membuatnya dikenal sebagai pahlawan kaum pinggiran. Dia mengungkapkan realitas sosial dalam untaian lirik lagu berirama balada.

Setiap kali mendengar lagu-lagu Iwan Fals, banyak orang yang sejenak tersadarakan kondisi sosial tanah air. Orang menyukainya karena lagu-lagunya mudah dicerna dan mengandung pesan-pesan humanis yang mendalam. Kelebihan lirik lagu-lagu iwan yang paling mencolok adalah kenyataan bahwa dia tidak lahir dari ruang hampa, lirik-liriknya lahir dari hasil jepretan atas kondisi sosial politik Indonesia sendiri dengan penggunaan kata-kata sederhana, telanjang, dan kadang-kadang jenaka.

Nama lain yang tak kalah kondang adalah almarhum Harry Roesli, musisi kelahiran Bandung yang kerap melahirkan karya-karya yang sarat kritik sosial dan bahkan bernuansa pemberontakan terhadap kekuasaan diktator yang korup. Kegiatannya di mana saja tak pernah lepas dari pengawasan aparat. Dia juga sering terlibat dalam berbagai aksi dan advokasi ketidakadilan. Pada masa Orde Baru, pementasan musik dan teater yang dibuatnya sering dicekal aparat keamanan.

Saat bergulirnya reformasi Mei 1998 untuk menggulingkan rezim Soeharto, Harry berada di barisan depan para demonstran. Rumahnya pada waktu itu menjadi pusat aktivitas relawan Suara Ibu Peduli di Bandung. Sejak dulu rumahnya ramai dengan kegiatan para seniman jalanan dan tempat berdiskusi para aktivis mahasiswa.

Sikap kritis Harry tidak hanya berhenti setelah lengsernya Soeharto. Pada masa pemerintahan BJ Habibie, salah satu karyanya yang dikemas 24 jam nonstop juga nyaris tak bisa dipentaskan. Juga pada awal pemerintahan Megawati, dia sempat diperiksa Polda Metro Jaya gara-gara mempelesetkan lagu wajib Garuda Pancasila.

Resistensi dan kemajuan musik semakin menegaskan pentingnya semangat perdamaian, persatuan, dan kampanye anti-kekerasan. Musik seakan bergerak menjadi aparatus kebudayaan dan gerakan yang menghujam segala bentuk ketidakadilan serta penindasan.

Kisah pergolakan 25 orang musisi yang mempunyai semangat perlawanan tercover dalam buku ini. Mereka berasal dari berbagai zaman, lokasi, dan genre musik. Beberapa dari mereka sudah meninggal dunia, beberapa lainnya masih terus berkarya hingga sekarang. Dari pengalaman mereka itulah kita bisa merefleksikan pentingnya pembaharuan dalam kehidupan yang selama ini belum berjalan secara adil dan menyenangkan.